Istanbul (KABARIN) - Prancis menegaskan belum mau mencabut sanksi terhadap Iran selama jalur pelayaran di Selat Hormuz masih diblokade.
Pernyataan itu disampaikan langsung Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot dalam wawancara dengan stasiun televisi Prancis RTL, Kamis.
"Kami sendiri telah memberlakukan sanksi signifikan terhadap Iran. Tetapi tidak mungkin sanksi apa pun dicabut selama Selat Hormuz masih diblokade,” kata Barrot.
Ia menilai jalur pelayaran di Selat Hormuz harus segera dibuka kembali karena punya peran penting bagi perdagangan dan distribusi energi dunia.
Menurut Barrot, kawasan tersebut tidak boleh dijadikan alat tekanan politik maupun ekonomi.
"Selat itu tidak boleh diblokade, dikenai bea masuk, atau digunakan sebagai alat tawar-menawar atau pemerasan," ujarnya.
Lebih lanjut, Barrot juga mengajak negara-negara Eropa mulai mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan teknologi asing agar tidak terus terseret dampak konflik global.
“Itulah mengapa kita harus fokus pada bagaimana Eropa dapat melepaskan diri dari semua ketergantungan pada hidrokarbon dan minyak — tidak lagi bergantung pada teknologi digital,” katanya.
“Singkatnya, tidak lagi bergantung pada hal-hal yang menyeret kita ke dalam konflik, bencana, dan krisis di mana kita bukanlah peserta,” ujarnya, menambahkan.
Selain soal blokade Selat Hormuz, Barrot juga menyoroti serangan terhadap kapal milik perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM serta sejumlah infrastruktur energi di Uni Emirat Arab yang diduga menjadi sasaran Iran.
Ia menyebut serangan terhadap fasilitas sipil tidak bisa dibenarkan.
“Semua serangan terhadap infrastruktur sipil patut dikutuk,” katanya.
Meski begitu, Barrot menegaskan Prancis bukan target langsung dalam insiden tersebut karena kapal CMA CGM beroperasi menggunakan bendera Malta dan awak kapalnya berasal dari Filipina.
Editor: Raihan Fadilah
Copyright © KABARIN 2026